Sejarah Koin dalam Peradaban Islam (2)

Alquran jarang membahas tentang koin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama 20 tahun pemerintahan khalifah Umayyah kelima, Khalifah Abdul Malik Ibn Marwan kemudian mencerminkan program Islam yang lebih jelas. Khalifah Abdul Malik melakukan pembangunan Haram al-Sharif (Dome of the Rock) di Yerusalem dan memiliki dekrit untuk melakukan semua bisnis pemerintah dalam bahasa Arab.

Karena itu, khalifah Abdul Malik akhirnya menggantikan sosok kaisar Bizantium di dalam koin yang selama ini telah digunakan. Lambang salib juga dihilangkan, dan untuk pertama kalinya kata-kata dari Alqur'an dimunculkan di dalam koin.

Koin emas baru yang bertuliskan bahasa Arab itupun menyebabkan krisis internasional. Pada 692 M, ketika Khalifah Abdul Malik mencoba untuk membayar upeti kepada Bizantium dengan koin-koin baru itu, ditolak oleh Kaisar Justinian II (669-711). Penolakan upeti itu pun melanggar perjanjian, dan perang pun terjadi.

Koin emas itu menyinggung Kaisar Justinian II karena di dalamnya kini sudah tidak terdapat simbol kristen, tapi digantikan dengan dua kalimat syahadat yang bertuliskan bahasa Arab. Sejak saat itu, simbol Islam akhirnya diterapkan pada semua mata uang.

Tahap berikutnya, dalam membangun sistem koin Arab yang baru memiliki standardisasi, yaitu dengan memunculkan gambar khalifah pada koin emas, perak dan tembaga. Beberapa dari percetakan logam ini berada di daerah perbatasan tempat tentara dikerahkan untuk melawan Bizantium. Hal ini menunjukkan bahwa koin-koin itu diproduksi untuk kepentingan militer.

Untuk pertama kalinya, koin-koin itu mengandung sosok khalifah. Sementara, di balik koin muncul sebuah objek yang telah dikenal sebagai qutb (tongkat) yang dikelilingi tulisan kalimat syahadat. Koin-koin ini dikeluarkan selama empat tahun, dari sekitar 693 hingga 697.

Di Mesir, koin pada periode yang sama menunjukkan lebih sedikit variasi. Mesir hanya menggunakan satu percetakan di Alexandria. Koin itu terbuat dari tembaga yang kecil dan tebal, tidak ada koin emas atau perak yang dikeluarkan di sana.

Pembuatan koin-koin yang dikeluarkan Arab sebagian besar sesuai dengan pola yang sudah ada, yaitu sosok seorang penguasa di bagian depan. Sedangkan di sebaliknya terdapat figur atau lambang budaya lain yang berbeda. Tetapi pada akhir abad ketujuh, khalifah akhirnya berhasil menyatukan kekaisaran dan mulai menyerang mata uang universal.

Pada 697 M, jenis koin emas kemudian hanya menunjukkan tulisan Arab yang sebagian besar berasal dari Alqur'an. Reformasi fundamental ini menghasilkan mata uang universal yang benar-benar Islami, yang cocok digunakan di negara-negara Islam. Namun, koin-koin di negara Islam itu mulai menghindari penggambaran sosok manusia.



Sumber: Republika.co.id
loading...