Jonas, Ateis yang Menjadi Mualaf Usai Pulang dari Afrika

Jonas memutuskan menjadi mualaf setelah kembali dari Afrika.

REPUBLIKA.CO.ID, TANZANIA -- Terlahir dengan nama Jonas, dan mengubah namanya menjadi Yunus pada 2017 lalu setelah masuk Islam. Yunus menceritakan kisahnya masuk Islam setelah dia bertanya-tanya, kepada siapa harus berterima kasih atas semua nikmat yang telah dia rasakan. Khususnya, setelah dia sempat tinggal di Tanzania, Afrika selama setahun.

Dikutip dari Aboutislam.net, Yunus memulai kisahnya bahwa dia telah mengenal Islam sejak tahun-tahun terakhirnya di SMA. Pada saat itu, salah seorang temannya masuk Islam di usia 16 yahun.

Dia banyak berdiskusi dengan temannya itu secara mendalam dan kemudian menjadi teman dekat. Namun, sama sekali tidak terpikirkan olehnya saat itu untuk menjadi seorang Islam.

"Saya adalah seorang atheis. Saya tidak ingin memiliki hubungan dengan agama. Ilmu pengetahuan adalah cara hidup saya," kata Yunus.

Tinggal di Afrika

Usai menamatkan SMA, Yunus keluar dari tanah kelahirannya di Jerman dan memutuskan keluar Eropa. Dia ingin mengalami pengalaman berbeda dan dia selalu terpesona dengan Afrika.

"Itu sebabnya saya tinggal di Tanzania dan mengubah hidup saja. Itu adalah pembuka pintu perubahan terbesar dalam hidup saya," kata Yunus.
 
Selama di Afrika, Yunus tidak benar-benar merasakan kesannya terhadap adanya perbedaan cara hidup. Namun, dia mengalami perubahan ketika sudah kembali ke Jerman.
 
Krisis spiritual

Yunus telah melihat bagaimana orang hidup di Afrika. Ketika kembali ke Jerman, dia tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja setelah dia menjalani kehidupan seperti biasanya di Jerman.
 
Salah satu pertanyaan utama yang mengganggunya adalah, kepada saya dirinya harus bersyukur atas demua keistimewaan yang telah dia dapatkan selama hidupnya di Jerman. Dia telah melihat bagaimana orang-orang harus berjuang untuk mencari nafkah di Tanzania. Dia melihat bahwa pendidikan tidak gratis untuk semua orang.
 
"Mengapa saya memiliki hak istimewa ini? Apakah itu karena orang tua saya? Tidak, bukan itu. Siapa yang memberi saya kemewahan ini? Pertanyaan yang tampaknya sederhana ini menyebabkan saya mengalami krisis spiritual," kata Yunus.

Saat mengalami krisis spiritual ini, menyebakan dirinya mendekat ke agama. Dia belajar tentang Kristen, Budha, dan Hindu. Dia juga belajar tentang Islam.

Namun, setelah mempelajari agama-agama lain, dirinya dengan mudah menolaknya.Hal ini berbeda ketika dia belajar tentang Islam. Karena, agama ini masuk akal dan dia tidak memiliki alasan untuk membantahnya. 

"Argumen emosional dan budaya tidak dapat diterapkan ketika kita berbicara tentang kebenaran obyektif. Dan saya menemukan bahwa Islam adalah kebenaran obyektif. Saya melihat Islam melalui pendekatan ilmiah saya. Bukti ilmiah yang ditemukan dalam Al-Quran dan Hadits meyakinkan saya bahwa Islam benar-benar diungkapkan oleh Tuhan," kata Yunus.

Menerima Islam

Setelah sampai pada pemahaman itu, membuat dirinya berada dalam dilema. Karena, di satu sisi dia adalah serang atheis.

Tetapi, dia juga tidak ingin kembali ke kehidupan yang lama. Hingga akhirnya, pada bulan Februari 2017 dirinya memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat.

"Menjadi Muslim memberi arti bagi hidup saya," kata Yunus.

Setelah masuk Islam, keluarganya menerima kehidupan barunya. Meskipun, mereka sebenarnya ingin dia kembali ke kehidupan yang lama.   

"Tapi ini tidak mungkin! Saya menemukan kebenaran. Saya mengisi ruang kosong ini di hati saya dengan cahaya yang saya gunakan untuk menutupi dengan gaya hidup konsumtif saya. Saya tidak menyesal!"

Setelah dia memutuskan keluar dari zona nyamannya di Jerman setelah lulus SMA. Dan, setelah tinggal satu tahun di Tanzania, Tuhan membuka hatinya untuk menerima kebenaran tertinggi milik Tuhan.  

"Saya menemukan Tuhan agar saya bisa menunjukkan rasa syukur saya," kata Yunus. 



Sumber: Republika.co.id
loading...