Kemuliaan Perempuan dan Ibu dalam Bait Kata Penyair Muslim

Para penyair Muslim memuji kedudukan perempuan dan ibu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kedudukan serta kemuliaan kaum perempuan dan ibu dalam Islam begitu tinggi. Keduanya termaktub secara jelas dan bahkan kerap ditegaskan pula dalam berbagai hadits Rasulullah SAW. 

Tak hanya kedua dalil itu, sejumlah penyair modern pun menuliskan kemuliaan derajat mereka dalam sejumlah syair.

Dalam buku Ensiklopedia Wanita Alquran karya Imad Al-Hilali disebutkan bagaimana sejumlah penyair Muslim mengungkapkan syairnya mengenai Muslimah. Berikut syairnya:

Seorang penyair, Ahmad Taqiyuddin (1935) mengungkapkan peran besar perempuan Muslimah dalam sendi-sendi kehidupan. Diibaratkan bahwa ibu adalah sang pemberi nutrisi bagi jasmani dan rohani anak.

Ibu adalah pengasuh dan juga sekolah bagi anak-anaknya. Mereka diasupi makanan dari tetesan air susunya. Ibu memberi nutrisi bagi jasmani dan rohani. Selama di dadanya ada kesehatan dan perangai yang baik. Jika sang ibu maju, maka didikan akan maju. Tapi jika sang ibu mundur, maka didikan akan mundur.

Begitu dengan Ahmad Taqiyuddin, penyair lainnya bernama Jamil Shidqi Al-Zahawi (1936) juga bersyair:

Kita saksikan, wanita memiliki andil dalam membangun. Andai bukan sepak terjangnya, pembangunan tak akan berjalan. Bagi anak-anak, wanita ialah sekolah. Bagi para ayah, wanita ialah penolong.

Penyair lainnya, Fahizh Ibrahim al-Zahawi (1932) juga bersyair:

Ibu adalah sekolah jika kau persiapkan. Kau persiapkan bangsa yang harum membanggakan. Ibu adalah taman yang kelak menumbuhkan daun-daun segar. Jika kau terus sirami dengan pengetahuan dan rasa malu. Ibu adalah guru pertamanya para guru. Di mana kemuliaan mereka tersebar ke seantreo negeri.

Tak lupa, penyair Ma'ruf Rashafi (1945) menuliskan penanya tentang Muslimah:

Asuhan ibu adalah sekolah yang unggul bagi anak laki-laki maupun perempuan. Sehingga bagusnya akhlak anak-anak. Dapat diukur dengan bagusnya akhlak para ibu dan perempuan. Ketahuilah, anak tiri yang berperangai luhur. Tak seperti anak tiri yang berperangai rendah.

Pada periode ini, penyair lainnya seperti Mikhail Khairullah Wirdi (1945) juga bersyair:

Asuhan ibu ialah sekolah paling unggul. Guna melahirkan guru-guru terpercaya.



Sumber: Republika.co.id
loading...