Membahas Pertanyaan Malaikat Soal Penciptaan Manusia

Malaikat mengajukan pertanyaan kepada Allah soal penciptaan manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Surat Al Baqarah Ayat 30 mengabadikan keberatan malaikat atas rencana Allah SWT yang akan menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dalam surat itu malaikat bertanya kenapa manusia diciptakan yang akan menumpahkan darah antara satu dengan lainnya.

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'" Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau!" Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui."

Pertanyannya, apakah keberatan malaikat itu sebagai nafsu atau keinginan seperti halnya manusia? Bukankah malaikat diciptakan tanpa keinginan apapun kecuali taat kepada Allah seperti ditegaskan surat at-Thrim ayat 6 dan surah Anbiya ayat 19 bahwa malaikat tidak mempunyai hawa nafsu.

Terkait pertanyaan tersebut, peniliti di rumah fiqih Indonesia Ustaz Ahmad, Lc. MA menjelaskan, bahwa perkataan malaikat di ayat 30 al-Baqarah itu (Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau), tidak sama dengan nafsunya manusia.

"Nafsu (manusia) yang dimaksud menurut saya adalah nafsu hewani. Urusannya gak jauh -jauh dari perut dan sedikit di bawah perut. Hewan itu kan memang tidak dibebankan dengan syariat, sehingga dalam filosofi hewan, tidak dikenal istilah halal dan haram," katanya kepada Republika saat memberikan kajian virtulanya, Selasa (19/5).

Sederhanya kata Ustaz Ahmad tentang keberatan malaikat itu bisa ditafsirkan bahwa malaikat itu berpikir dan berasumsi, nampaknya tidak bisa dihindari. Sebab faktanya ada kisah di zaman Bani Israil di mana dua malaikat berbeda pendapat tentang nasib jenazah si pembunih 99+1 nyawa manusia.

"Yang satu mau bawa ke surga, yang lainnya mau bawa ke neraka. Berpikir dan berasumsinya malaikat itu tidak bisa disebut mereka itu punya nafsu," katanya.

Bayangkan kata Ustaz Ahmad, jikalau dalam hadits disebutkan bahwa para malaikat itu juga berdoa. Bukankah berdoa itu berharap? Bukankah berharap itu ada unsur emosi dan nafsunya juga?
Bahkan dalam beberapa peperangan, Allah SWT ikut menurunkan pasukan dari kalangan malaikat, ingat kan?

"Malaikat ikut perang? Bukankah perang itu pakai nafsu? Nah, sebenarnya bukan nafsu, tapi emosi," katanya.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir Online qiraah yang syaz dibaca inni ja'ilun fil ardi khalifah (sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah-khalifah di muka bumi). Demikianlah diriwayatkan oleh Zamakhsyari dan lain-lainnya.

Al-Qurtubi menukil dari Zaid ibnu Ali, yang dimaksud dengan khalifah dalam ayat ini bukanlah Nabi Adam AS saja seperti yang dikatakan oleh sejumlah ahli tafsir. Al-Qurtubi menisbatkan pendapat ini kepada Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, dan semua ahli takwil. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Al-Qurtubi ini masih perlu dipertimbangkan.

Bahkan perselisihan dalam masalah ini banyak, menurut riwayat Ar-Razi dalam kitab tafsirnya, juga oleh yang lainnya. Pengertian lahiriah Nabi Adam saat itu masih belum kelihatan di alam wujud. Karena jikalau sudah ada, berarti ucapan para malaikat yang disitir oleh firman-Nya dinilai kurang sesuai, yaitu:

Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah? (Al-Baqarah: 30)

Karena sesungguhnya mereka (para malaikat) bermaksud bahwa di antara jenis makhluk ini ada orang-orang yang melakukan hal tersebut, seakan-akan mereka mengetahui hal tersebut melalui ilmu yang khusus, atau melalui apa yang mereka pahami dari watak manusia.

Karena Allah Swt. memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan jenis makhluk ini dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam. Atau mereka berpemahaman bahwa yang dimaksud dengan khalifah ialah orang yang melerai persengketaan di antara manusia, yaitu memutuskan hukum terhadap apa yang terjadi di kalangan mereka menyangkut perkara-perkara penganiayaan, dan melarang mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan serta dosa-dosa. Demikianlah menurut Al-Qurtubi.

Atau para malaikat mengkiaskan manusia dengan makhluk sebelumnya, sebagaimana yang akan kami kemukakan dalam berbagai pendapat ulama tafsir. Ucapan para malaikat ini bukan dimaksudkan menentang atau memprotes Allah, bukan pula karena dorongan dengki terhadap manusia, sebagaimana yang diduga oleh sebagian ulama tafsir.

Sesungguhnya Allah Swt. menyifati para malaikat; mereka tidak pernah mendahului firman Allah Swt., yakni tidak pernah menanyakan sesuatu kepada-Nya yang tidak diizinkan bagi mereka mengemukakannya. Dalam ayat ini (dinyatakan bahwa) ketika Allah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan di bumi suatu makhluk menurut Qatadah, para malaikat telah mengetahui sebelumnya bahwa makhluk-makhluk tersebut gemar menimbulkan kerusakan padanya (di bumi).

Maka mereka mengatakan: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah? (Al-Baqarah: 30).



Sumber: Republika.co.id
loading...