Menikmati Malam

Nabi SAW bisa dikatakan tancap gas pada 10 hari terakhir Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Imam Nawawi

Malam adalah waktu yang istimewa bagi hamba-hamba Allah yang ingin menyucikan diri, meneguhkan tekad, dan berjiwa ksatria di sepanjang hari. Seperti itulah Nabi Muhammad SAW mengisi malam hari di sepanjang usianya dalam membawa risalah Islam yang mulia.

"Rasulullah SAW biasa mengerjakan shalat malam setelah shalat Isya sampai fajar Subuh menyingsing." (HR Ahmad).

Di dalam Alquran Allah Ta'ala menjelaskan bahwa malam adalah waktu yang tepat untuk seorang hamba bersyukur.

"Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur." (QS. Al-Furqan [25]: 62).

Artinya, malam benar-benar istimewa, sangat berharga, dan karena itu tidak akan disia-siakan dengan meninggalkan kemesraan dengan Rabb langit dan bumi. Lebih-lebih pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Hal ini disampaikan oleh Ummul Mukminin, Aisyah ra bahwa Nabi SAW bisa dikatakan tancap gas pada 10 hari terakhir Ramadhan.

"Pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan Rasulullah SAW lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya." (HR. Muslim).

Dengan demikian, idealnya, semakin menuju akhir Ramadhan, semakin kencang umat Islam beribadah, terutama di malam hari. Semakin kuat semangatnya dalam taqarrub. Dan, tentu saja semakin bergairah mengisi malam demi malam yang tersisa di bulan Ramadhan dengan beragam ibadah, utamanya adalah shalatTahajud.

Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa tidak cukup semangat sendiri dalam mengisi malam dengan beragam amal ibadah, tetapi juga diupayakan bersama keluarga.

"Nabi SAW bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadlan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan beribadah dan membangunkan keluarga Beliau." (HR. Bukhari-Muslim).

Langkah itu diikuti oleh para ulama, seperti Sufyan Ats-Tsaury. Ia berkata, "Yang paling aku suka ketika masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan, yaitu bersungguh-sungguh menunaikan Tahajud di malam hari, membangunkan keluarga dan anak selama meraka mampu melaksanakannya."

Pertanyaannya mengapa harus menikmati malam sedemikian rupa? Tidak lain dan tidak bukan karena di malam hari bacaan Alquran akan mudah untuk diresapi dan dihayati. 

Pada saat yang sama, kata Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, bangun malam adalah cara efektif, waktu terbaik beribadah kepada Allah, karena pada waktu malam gangguan sangat sedikit. Malam adalah hening, keheningan malam berpengaruh pula kepada keheningan pikiran. Lebih dari itu, pada sebagian malam ada waktu dimana Allah turun ke langit bumi dan mengabulkan permohonan setiap hamba yang munajat kepada-Nya. 

Jadi, betapa rugi orang yang bertemu akhir Ramadhan, tetapi ia enggan dan tidak bersungguh-sungguh menikmati malam dengan memperbanyak sujud dan ruku kepada-Nya. Allahu a'lam.



Sumber: Republika.co.id
loading...